top of page

Merawat dan Terjerat

  • Aug 7, 2023
  • 5 min read

Updated: Jan 28, 2025






Wajah langit masih redup kebiruan, sebuah pohon bernama Sait masih sayup ketika sepasang suami istri, Marni dan Kasim membersihkan gulma yang sudah mulai meliar di sekitarnya. “Oh, Marni dan Kasim, Terima kasih sudah merawatku hingga hari ini” kata Sait “Ah, tentu saja, Terima kasih juga untukmu yang sudah memberikan kami hasil panen yang melimpah selama ini” Balas Marni ramah sambil menyeka keringatnya.



Sait tersenyum dan melayangkan pandangannya ke ujung langit, meraba-raba ingatannya di sana sesaat dedaunannya yang lebar menjuntai berarak gemulai ditiup lembut oleh angin, memayungi Marni dan Kasim yang tengah sibuk mencabuti gulma. Sait terkenang pada pertama kali ia tiba di kampung ini, di mana tanah kuning yang dulu terbentang luas itu kini menjadi rumah tak hanya bagi Sait dan kawan-kawan pohonnya tetapi juga rumah baru dan tempat mata pencaharian bagi Marni dan Kasim. Pertama kali berjumpa di tempat baru itu, masing-masing dari mereka sedang dalam kondisi nol, namun mereka mengisinya dengan berbagi cerita dan saling merawat hingga hari ini. Perasaan Sait selalu bercampur aduk jika mengenang semua itu, sebab cerita-cerita manis tak pernah hadir sendiri dalam hidup, cerita-cerita pilu bagi Sait adalah bagaimana relasinya dengan penduduk asli kampung ini yang justru tidak selalu baik, sebagaimana relasinya dengan Marni dan Kasim. Penolakan penduduk asli kampung atas keberadaan Sait dan kawan-kawan pohonnya membuat Sait selalu bertanya dalam hati tentang kesalahan apa yang telah ia perbuat.



Cahaya mentari pun mulai berpendaran, Marni dan Kasim yang telah selesai membersihkan gulma melepas lelah dengan duduk sejenak di bawah dedaunan Sait sambil bercerita tentang keseharian dan berbagi keluh soal kesulitan akhir-akhir ini, mulai dari persoalan harga bibit dan pupuk yang naik juga soal harga jual buah yang justru menurun. “Jangankan dapat untung, bayar hutang modal saja belum tentu” keluh Kasim. Mereka juga mengeluhkan kebijakan pabrik penggilingan sekarang yang membatasi para petani yang bekerja di bawah teritori pabrik tersebut untuk menjual buah ke pabrik penggilingan yang lain, kebijakan yang mengikat ini justru semakin memperparah kondisi keuangan, keluh Marni dan Kasim. Selain itu, mereka juga menyebut kerusuhan yang terjadi beberapa hari lalu tentang pembukaan lahan baru oleh perusahaan yang mengakibat ladang-ladang milik teman-teman mereka yang merupakan penduduk asli di kampung, diduduki secara paksa oleh perusahaan. Sait yang sedari tadi mendengarkan percakapan itu pun jadi ikut tersentak dan urun suara, Sait mengatakan bahwa ia tak menyangka begitu banyak pengorbanan dan usaha yang dilakukan untuk merawatnya dan kawan-kawan pohonnya. Dari peristiwa tersebut ia mulai mengerti mengapa relasinya dengan penduduk asli kampung tidak selalu baik sebab Sait bersama kawan-kawan pohonnya bak beradu dengan penduduk kampung untuk mendapatkan ruang hidup. Sait merasa sangat menyesal atas kenaifannya selama ini yang merasa selalu memberikan kelimpahan untuk orang-orang disekitarnya namun luput menyadari bahwa untuk menghasilkan kelimpahan itu perlu ditebus dengan ribuan hektar lahan yang telah menjadi ruang hidup bagi penduduk kampung selama ini untuk kemudian diduduki jutaan pohon seperti dirinya.



Sait pun tiba-tiba menangis terisak atas kenyataan tersebut, dadanya sesak, dahan-dahannya bergemetaran. Marni dan Kasim merasa iba pada Sait dan mencoba menenangkannya, namun tangisnya tak kunjung usai. Sait terus saja bergumam tentang kenaifannya, dan menyalahkan dirinya sebagai sumber permasalahan ini. “Aku paham perasaanmu, tapi ini bukan sepenuhnya salahmu, Sait. Toh tak dapat dipungkiri kalau kita memang saling membutuhkan” Ucap Kasim dengan lembut pada Sait. “Kau dan kawan-kawanmu memberi banyak manfaat untuk kebutuhan kita sehari-hari, tapi tampaknya segala manfaatmu itu digunakan secara berlebihan oleh mereka-mereka yang hanya ingin cari untung” Lanjut Kasim.


Mendengar ucapan Kasim, Sait merasa mendapatkan pembenaran tapi ia tak ingin bercepat-cepat mengambil kesimpulan, ia belum selesai mencerna maknanya namun Marni ikut menimpali “Kalau saja mereka-mereka itu tidak rakus dan mau mendengar pendapat penduduk kampung dan para petani, sepertinya kekacauan ini, dan untuk keberlangsungan jangka panjang, bisa dimusyawarahkan bersama untuk kebaikan kita semua. Sekarang karena permasalahan sudah sampai begini; harga perawatan, jual beli, ditambah pembukaan lahan paksa ini, penduduk kampung bahkan sesama petani tentu berpotensi besar akan saling sikut”. Mendengar itu, Kasim langsung menambahkan “Lah, justru itu Mar.. mereka-mereka yang ingin cari untung suka melihat kita saling menyalahkan satu sama lain, lalu mereka memanfatkan perselisihan itu sebagai celah, mereka tidak peduli kita jadi saling bertengkar dengan saudara sendiri karena dengan begitu ada pihak yang bisa mereka jadikan boneka untuk mencapai tujuan mereka, asal uang selalu masuk ke kantong mereka sepertinya mereka akan lakukan apa saja demi itu”.


“Ya ampun, kalau sudah begini…” pikir Marni, “permasalahan ini tidak akan selesai selama ‘untung-seuntung-untungnya’ selalu menjadi motif dan tujuan utama mereka!”


Suasana menjadi terasa semakin panas, mereka tenggelam dalam kemarahan, sedih, dan putus asa yang bercampur aduk di pikiran mereka masing-masing. Obrolan itu seperti melucuti segala realita yang sedang mereka hadapi dan mungkin dapat terus mengancam di kemudian hari, dan kenyataan bahwa persoalan ini akan sangat sulit untuk mereka selesaikan sendiri. Matahari yang hampir di puncaknya pun seakan memancarkan teriknya untuk mengingatkan mereka agar segera berlalu sebab pekerjaan-pekerjaan lainnya sudah menunggu, menyadarkan mereka bahwa banyaknya keterbatasan yang mereka miliki mempersempit gerak dan pilihan untuk dapat menjalani hidup mereka sehari-hari adalah kenyataan pahit yang harus ditelan. Mereka pun kemudian berpisah di siang itu, mengendapkan pikiran dan perasaan di dalam hati masing-masing.



Tinggalah Sait, hari-harinya menjadi murung semenjak obrolannya bersama Marni dan Kasim di siang itu. Hari demi hari, kawan-kawan pohonnya berusaha menyemangati namun tampaknya Sait masih terguncang, sampai akhirnya ia pun tak menyadari pergejolakan dalam dirinya di usianya yang semakin menua ini justru semakin mempengaruhi pertumbuhannya. Kondisi pertumbuhan yang terganggu itu kemudian membuatnya tidak produktif menghasilkan buah, ia ingin melawan sakitnya namun semangatnya kadung lenyap dan ia merasa tak punya pilihan lain selain menyiapkan diri akan konsekuensinya. Dalam kondisinya saat ini, Sait pun paham bahwa kehidupannya yang hanya sementara ini dengan lekas atau lambat akan digantikan dengan Sait-Sait yang lain, ia pikir mati berguna tampaknya akan lebih baik daripada terus hidup menjadi benalu.



Hingga di suatu pagi yang cerah, ketika angin menyampu lembut dedaunan, Sait dengan sayu namun sudah tak ada lagi rasa sedih maupun penyesalan, menatap kawan-kawannya sebagai tanda selamat tinggal darinya. Marni dan Kasim yang mengetahui kondisi Sait, hadir di sana, mereka menitikkan air mata dan memeluknya untuk terakhir kali sebelum akhirnya mereka terpaksa harus menyuntik mati Sait yang sudah tidak produktif lagi. Sait menitip pesan pada Marni dan Kasim agar mereka menggunakan pembusukan tubuhnya sebagai pupuk dan media tanam bagi tanaman lain di kebun mereka. Marni dan Kasim pun berkata pada Sait bahwa kebaikan Sait selama hidup hingga kematiannya tidak akan pernah sia-sia bagi mereka, mereka pun berjanji untuk mengabulkan permintaan Sait yang terakhir. Sait tersenyum dan pamit perlahan, dalam hatinya ia menyadari penderitaan yang ia alami ini terjadi tidak hanya padanya dan kawan-kawan pohonnya, tetapi juga Marni, Kasim, dan penduduk lain, baik dalam bentuk yang serupa atau lainnya yang belum atau tidak terduga, dan bagaimana hal itu menunjukan kehidupan mereka; manusia dan segala mahluk hidup di alam ini tidak punya banyak kekuatan untuk memilih bagaimana menjalani hidup jika berada di dalam gelembung kekuasan yang rakus.



Pilihan Sait untuk mati baginya adalah pilihan satu-satunya yang dirasa dapat mengurangi beban Marni dan Kasim, untuk merawatnya yang kadung sakit adalah pekerjaan yang lebih berat dibanding merawat pohon yang lebih muda dan produktif. Meskipun begitu, Sait merasa pilihan untuk disuntik mati juga yang sepertinya diinginkan oleh mereka-mereka yang punya kekuatan mengatur dinamika roda produksi, meskipun kenyataannya pilihan untuk mati tak banyak memberikan solusi sebab nafsu untuk mendapatkan keuntungan tetap mendorong mereka-mereka yang rakus untuk menaklukan semua lahan yang tersisa dan menempatkan Sait-Sait yang lain lagi di sana. Bagi Sait, ia tak bisa menyalahkan Marni, Kasim, dan petani lain begitu saja, sebab Sait merasa mereka pun sama terpaksanya untuk menjalankan atau mau tidak mau harus terlibat dalam skenario yang sudah dirancang oleh mereka-mereka yang rakus, memangnya adakah pilihan-pilihan lain dan jaminan yang pasti agar mereka dapat bertahan hidup? Namun pada perpisahan ini, Sait, Marni, dan Kasim tahu bahwa mereka dapat memilih untuk tidak berlarut menyesali kehidupan yang mereka jalani dan justru menemukan makna dari relasi mereka yang secara tidak sadar telah menjadi kekuatan mereka selama ini; saling berbagi, mengisi, dan merawat satu sama lain.




Comments


© 2025 by svtvnvmvn

  • Twitter
  • Instagram
bottom of page