top of page

Hilang Rindang

  • Sep 24, 2022
  • 3 min read

Updated: Jan 28, 2025

Teks: svtvnvmvn

Visual: svtvnvmvn


















Sekian tahun telah berlalu, derita pun sudah menubuh di keseharian. Ia melihat kampungnya yang kian hari kian menguning; di saat hujan tanahnya menjelma sungai dan saat kemarau tanahnya naik ke atas, menjadi debu yang meliuk-liuk di udara lalu menempel di setiap permukaan. Kampung semakin sepi ditinggal penghuninya yang satu persatu sekarat dan tumpas digilas derita, meskipun ada yang bertahan, mereka hidup bak mahluk dua alam; sewaktu-waktu dapat hidup dalam kubangan tanah kuning lalu merangkak kekeringan di tanah yang panas. Lambat laun, tubuh mungil mereka berubah menjadi bentuk-bentuk yang tak terbayangkan sebab menyerasikan diri dengan alam agar dapat terus hidup. Ia hanya mendengar cerita bahwa dahulu kampungnya adalah kawasan hutan yang rindang. Pohon-pohon tumbuh besar menghasilkan banyak buah-buahan, binatang-binatang berlari dan terbang sesuka hati, penduduk kampung dapat mengambil tanaman untuk disantap sehari-hari. Belum lagi ragam jenis ikan di sungai yang kadang dengan berani melompat ke udara seperti sedang menyapa penduduk yang tengah mandi di sungai. Semenjak ia kecil, ia tak tahu pohon-pohon apa yang menghasilkan buah-buahan seperti yang disebut dalam cerita itu, juga ia tak tau ikan-ikan apa yang suka menyapa jika ada seorang yang sedang mandi di sungai, pun ketika pergi ke hutan ia tak melihat binatang yang berlari dan terbang sesuka hati kecuali serangga yang sering hinggap di kulitnya. Di dalam hutan, yang ia lihat sehari-hari hanyalah pohon besar yang dahannya berjuntai lebar, seperti jari-jari panjang yang hendak memeluk angkasa. Pohon besar yang ia lihat itu semuanya sama, dan berbaris sangat rapi dengan jarak yang terukur. Pohon itu memang punya buah yang banyak di tubuhnya namun tidak bisa dimakan, buah-buah kecil itu merekat dalam tiap bonggol dan memiliki bentuk lonjong kecil berwarna merah kecoklatan, di ujung buahnya terdapat duri kecil seperti pantat lebah yang siap menyengat, lalu di antara tiap buahnya terdapat duri lain yang bentuknya seperti tangan mungil lengkap dengan kukunya yang runcing dan panjang.

Sejauh mata memandang, pepohonan yang rupanya sama itu terhampar luas, di sisi lain adalah tanah kuning berdebu, berada di sepanjang bibir sungai di mana rumah-rumah kecil penduduk terbangun. Pada beberapa titik di tanah kuning, ia dapat menemukan buah lonjong merah kecoklatan itu telah lepas dari bonggolnya dan kemudian dibawa pergi jauh entah kemana oleh para raksasa. Yang tersisa hanyalah bonggol berduri yang perlahan melayu dan kering dirajam sinar mentari, meninggalkan bau tak sedap dan mengeluarkan minyak aneh darinya, bau dan minyak itu berhembus di udara dan mengalir dari tanah lalu ke sungai hingga tak terhitung jauhnya. Para raksasa tampaknya tidak menginginkan bonggol berduri itu sehingga mereka memilih meninggalkannya di tanah kuning itu.


Penduduk hanya dapat menanam pohon yang rupanya sama itu, tak ada cukup lahan untuk pohon dan tanaman lain. Sedangkan, di luar wilayah pepohanan yang rupanya sama, yaitu di tanah kuning, pohon dan tanaman lain tak dapat hidup, bahkan untuk menembuskan tunasnya ke permukaan saja tak dapat. Beberapa tanaman ada yang dapat tumbuh di air, sehingga penduduk mengandalkan metode tanam seperti itu di tepian air sungai untuk kebutuhan sehari-hari. Namun tak semudah itu menanam di sungai, terkadang perahu bertenaga mesin membuat gelombang besar dan menghantam sayur mayur mereka, air di sungai juga menjadi keruh dan berminyak, ikan-ikan sedikit sekali yang dapat ditangkap.

Tanah kuning itu seperti kutukan, namun di situlah satu-satunya rumah yang dapat ditinggali oleh ia dan penduduk lain yang tersisa, kecintaan mereka pada tanah yang pernah menghidupi diri mereka tak dapat dienyahkan begitu saja, sehingga bukan menjadi pertimbangan mudah bagi mereka untuk meninggalkan tanah kuning itu meskipun sang tanah dan penduduk telah lama dipaksa untuk saling meracuni. Entah rindang yang telah hilang, atau cerita terdahulu tentang hutan dan segala keindahan di kampung merekalah yang hanya sebuah dongeng belaka. Ia dan penduduk lainnya mengenang cerita itu dari mulut ke mulut, membayangkan rupanya di kepala masing-masing sesaat sebelum mereka melelapkan diri di tengah malam. Karena mereka tak punya gambaran nyata tentang segala yang disebutkan dalam cerita lama itu, maka rindang yang dapat dibayangkan barangkali hanya pepohonan yang rupanya sama itu.

 
 
 

Recent Posts

See All

Comments


© 2025 by svtvnvmvn

  • Twitter
  • Instagram
bottom of page